Kabarku? Hm...
Di sinilah aku. Berbicara tentang segala gejolak dengan bahasa “diam”ku. Hehe...kasian deh nih blog. Gak kucurhati lagi. Tak kutulisi bahkan tak kukunjungi. Aku juga gak ngerti kenapa berhenti menulis tentang apa yang terjadi dan apa yang kurasa. Hm...mungkin karena memang terlalu banyak pengalaman batin hingga aku bingung mau mengurainya dari mana.
Tak ingin berkutat dengan pikiran saja, kucoba menulis lagi. Hal pertama yang akan kutekankan pada diri ini adalah rileks dan biarkan kata-kata mengalir. Perlahan dan santai. Biar berhembus bersama menit dan jam di depan monitor dan biarkan penggalan kisah bubuhkan tanda titik di tiap kalimatnya. (... terapi neh :p)
Aku berhenti ngeblog sejak mempersiapkan pernikahan. Agenda terbesar dalam hidupku. Alhamdulillah prosesinya berjalan lancar. Biasanya pagi sampai siang disusul sore dan malam pada hari2 sebelumnya hujan turun dengan setia. Tapi hari itu hanya rintik gerimis saja yang mengawali berlangsungnya akad nikah kami. Alhamdulillah, doa banyak orang.
Berselang 3 hari setelah itu (31 Januari atawa 1 Muharram)ada talk show tentang “Cinta” di mushala Muadz ibn Jabbal. Mengundang Mbak HTR dan Mas SW (Sakti Wibowo) sebagai pembicara. Penyelenggaranya temen2 plus kami berdua sang pengenten baru. Tadinya sih mau dibarengin di acara resepsi.... kan seru tuh ya? Ceritanya gimana, yang pasti itu kado yang luar biasa buatku, bisa ketemu Mbak Helvy dan Mas Sakti (lagi). Bukan karena Mbak Helvy bawa kado buat kami, tapi bisa begitu dekat dengan beliau berdua itu...wah, luar biasa. Eh, ditambah Koko Nata sebagai moderatornya. Hampir lupa :D
Poto2, lagi. Yang gak kalah istimewa, ternyata tanggal pernikahan kami sama lho! Iya. 28 Januari!
Selepas itu, Rabu berangkat ke Ngawi dilanjutkan ke Tasik dan Lampung. Sampai di Bekasi lagi 15 Februari. Keliling mendatangi tempat para tetua. Cuapek tapi sueneng. Setelah itu badan terasa letih yang luar biasa. Awal Maret kok pusingnya nambah kayaknya...yak! Positif. Aku resmi mengandung. Hehe...kok pake resmi-resmian segala?
Kuliah sudah mulai lagi. Kondisi tubuh berubah. Lemah. Ditambah dengan morning sickness. Eh, bukan hanya tubuh aja. Psikis juga. Yang tadinya udah sensitif jadi makin sensitif. Kerjaan nangis aja. So...kuliah sering ijin, tugas terbengkalai. Jadi kasian sama temen-temen sekelompok. Aku sering gak bisa nepatin janjian untuk kerja kelompok atawa datang ke expert tertentu. Merasa bersalah banget. Bangettttt nget nget nget... Alhamdulillah kandaku sayang (panggilan buat suamiku) gak bosen buat nguatin atau ngomong, “Siapa yang berani marah sama Nda? Bilang aja ma Kanda biar Kanda samperin.” Huehehe...yang tadinya berlinang air mata jadi nyengir kuda. Dibelain kayak bocah. Padahal sudah jadi emak-emak nih ceritanya. Hiks...begitulah. mengenai kawan-kawanku di pasca? Yah, who knows lah! Yang ngerti banyak (aku yakin) tapi, sorot mata ketidaksukaan atas “kemanjaanku” tak bisa dipungkiri sering juga membuat ulu hati serasa ditikam. Alhamdulillah sampai saat ini tak tercetus kata-kata penyesalan, bahwa aku hamil secepat ini :p.
So, hikmah apa yang bisa diambil dari segenap rasa yang menyatu, Bhie? Hm...nikmati saja. Allah pasti punya sesuatu dibalik ini. Untuk kami. Mungkin untuk yang baca juga.
Do’a penuh cinta untuk semua yang mencintaiku. Mengerti aku. Semoga Allah menambahkan pada kita kebijaksanaan dalam memandang hidup. Lebih dewasa dan mampu bertahan. Buat si kecil yang mulai belajar nendang di rahimku. Hm...kau adalah keajaiban kecil itu. Semangatku dan pengukir senyum.






maprens
silakan...
kemaren2